ADAT ISTIADAT
Acara Adat Pemberian Ulos Mula Gabe (Ulos Menyongsong Kelahiran Anak Sulung).
Dahulu acara adat pemberian "Ulos Mula Gabe" ini dinamai dengan sebutan "Pasahat Ulos Tondi", dimana ulos tersebut diyakini akan menghangatkan roh dari ibu yang akan melahirkan.
Namun setelah pemahaman agama Kristen makin meresap dalam diri dan keyakinan orang Batak, istilah ini tidak dipakai lagi tetapi diganti dengan sebutan pasahat "Ulos Mula Gabe".
Makna dan tujuannya tetap sama hanya sebutan yang diubah dengan dasar pemikiran bahwa hanya Allah lah yang mempunyai otoritas untuk mangulosi tondi atau roh manusia beriman.
Adapun maksud dan tujuan acara tersebut adalah memberi dorongan moral kepada yang akan melahirkan agar kuat dan tegar berani menghadapi peristiwa melahirkan tanpa dibayang-banyangi rasa ngeri dan takut.
Pada masa silam, peristiwa melahirkan itu memang sering dianggap sebagai sesuatu peristiwa yang dahsyat, menakutkan bahkan sering dianggap dekat dengan maut. Sehingga untuk menjadikan orang yang akan melahirkan itu tidak takut dan berserah diri pada kuasa Tuhan, maka diadakanlah acara penguatan Jiwa dan roh tersebut yaitu memberi Ulos Mula Gabe.
Pada masa silam, peristiwa melahirkan itu memang sering dianggap sebagai sesuatu peristiwa yang dahsyat, menakutkan bahkan sering dianggap dekat dengan maut. Sehingga untuk menjadikan orang yang akan melahirkan itu tidak takut dan berserah diri pada kuasa Tuhan, maka diadakanlah acara penguatan Jiwa dan roh tersebut yaitu memberi Ulos Mula Gabe.
Dapat dimaklumi mengapa timbul perasaan takut dikalangan wanita yang baru pertama kali akan melahirkan, tentu karena dia belum pernah merasakan sakitnya orang melahirkan.
Belakangan ini, peristiwa melahirkan sudah tidak begitu menakutkan lagi apalagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dimana proses melahirkan sudah diringankan dengan bantuan ilmu kedokteran dan alat teknologi canggih serta obat-obatan.
Acara memberikan "Ulos Mula Gabe" hanya berlangsung sekali dalam seumur hidup seorang ibu yaitu hanya pada saat melahirkan anak sulung, sedang seterusnya tidak ada lagi.
Yang terus berlanjut adalah "acara manaruhon aek na asom" yaitu memberi makan yang baru melahirkan dengan rasa daging yang agak asam. Makanan jenis ini dahulu diyakini sebagai yang akan menguatkan fisik orang yang baru melahirkan.
Acara pemberian ulos mula gabe biasanya dilakukan yaitu 2 bulan sebelum perkiraan waktu akan lahirnya sijabang bayi.
Disebagian daerah ada yang beranggapan bahwa ulos mula gabe itu harus atas permintaan ibu hamil tersebut yaitu dengan mendatangi rumah ayah dan ibunya dimana untuk itu dia bersama keluarga suaminya membawa daging.
Namun disebagian daerah, ada juga yang mengatakan bahwa Parborulah yang harus mengantarkan ulos mula gabe kepada anaknya setelah melihat kondisi kehamilan anaknya sudah semakin mendekat lahir.
Maret 14, 2018
No komentar
Tarian Sigale-gale

https://www.dutamedan.com/2017/08/museum-huta-bolon-simanindo-samosir/
Sigale-gale adalah boneka kayu menyerupai manusia, dan biasanya patung ini berada di rumah adat Batak Desa Tomok. Boneka ini digerakkan oleh manusia yang berada di belakang patung Sigale-gale. Menurut legenda masyarakat suku Batak, Sigale-gale adalah putra tunggal kesayangan dari raja Rahat. Namun Sigale-gale meninggal karena sakit. Raja merasa sangat kehilangn anaknya, kemudian demi mengobati kesedihan raja, maka dibuatlah sebuah boneka kayu yang menyerupai Sigale-gale.
Kemudian diadakan ritual memanggil arwah Sigale-gale, sehingga boneka itu bisa menari-nari dengan iringi musik adat Batak. Kini, tarian boneka kayu ini menjadi daya tarik wisata, dan boneka digerakkan oleh 2 atau 3 orang.
Maret 06, 2018
No komentar
